KKG Sekolah Dasar Gugus 1 Kota Bukittinggi Dorong Transformasi Pendidikan
BUKITTINGGI, BLKNNEWS.COM, — Perubahan teknologi memaksa dunia pendidikan bergerak lebih cepat. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar isu teknologi, tetapi telah masuk ke ruang kelas dan menuntut guru menata ulang cara mengajar.
Sekolah yang tergabung dalam Gugus 1 terdiri atas SD Negeri 01 Benteng sebagai sekolah inti dengan kepala sekolah Dasril, S.Pd., M.Pd.; SD Negeri 07 Teladan yang dipimpin Efry Yenny, S.Pd.; SD Negeri 10 ATTS dengan kepala sekolah Afriyenni, S.Pd.; SD Negeri 12 Bukit Cangang yang dipimpin Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd.; SD Negeri 14 ATTS dengan kepala sekolah Rahmad Fuad, S.Pd., M.Pd.I.; serta SD Fransiscus yang dipimpin Triwahyuni, S.Pd.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Hari Belajar Guru KKG Sekolah Dasar Gugus 1 Kota Bukittinggi yang digelar di SDN 12 Bukit Cangang, dengan tema “Transformasi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan.”, yang dilaksanakan pada Kamis, (13/08/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru untuk belajar, berbagi pengalaman, sekaligus membaca arah perubahan pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SDN 12 Bukit Cangang, Tri Wahyuni, M.Pd kemudian dilanjutkan sambutan Ketua KKG Gugus 1 Rancak Bana, Anggun Purnama Sari S.Pd, Ketua Gugus 1 Dasril, M.Pd, serta Pengawas Sekolah Sri Yomila Putri, M.Pd.
Sri Yomila Putri menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG). Menurut dia, KKG harus tetap berjalan sesuai jadwal dan program yang telah disusun. Namun, program tersebut juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan guru dan perkembangan tantangan pendidikan.
“KKG harus tetap berjalan sesuai jadwal dan program yang telah disusun, tetapi materi kegiatan perlu menyesuaikan dengan kebutuhan guru,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Sesi utama menghadirkan Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd. sebagai narasumber. Ia mengajak guru melihat transformasi pendidikan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai babak baru yang harus disambut dengan kesiapan dan inovasi.
Menurut Tri Wahyuni , perubahan zaman berlangsung bersamaan dengan percepatan transformasi digital. Sekolah tidak bisa bertahan hanya dengan pola pembelajaran konvensional ketika karakter peserta didik, sumber belajar, dan teknologi terus berubah.
“Menjawab tantangan zaman, sekolah harus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam pembelajaran.
Dalam paparannya, Tri Wahyuni membahas kecerdasan buatan sebagai kekuatan pendorong inti perubahan yang berpotensi membentuk kembali masa depan pendidikan. Kehadiran AI membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif, personal, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Namun, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Pola pembelajaran konvensional yang terlalu berpusat pada guru perlu mulai bergeser menuju pembelajaran yang mendorong siswa aktif bertanya, mengeksplorasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan gagasan.
Konsep AI-STEM-Inkuiri turut menjadi bagian dari pembahasan. Pendekatan itu menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai alat bantu, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang mendorong rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemecahan masalah.
Di era AI, peran guru pun mengalami pergeseran. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan di ruang kelas. Guru dituntut menjadi fasilitator, pembimbing, pengarah, sekaligus penjaga nilai dan etika dalam pemanfaatan teknologi.
Karena itu, pemanfaatan AI bagi siswa sekolah dasar perlu memiliki prinsip yang jelas. Teknologi harus digunakan secara aman, bijak, sesuai usia, mendukung proses belajar, dan tidak menggantikan proses berpikir siswa.
Hari Belajar Guru KKG Gugus 1 Rancak Bana akhirnya bukan sekadar forum peningkatan kompetensi. Ia menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa teknologi boleh berubah cepat, tetapi pendidikan tetap membutuhkan manusia yang mampu membimbing, memberi teladan, dan menanamkan nilai.
Semangat itu dirangkum dalam moto KKG Gugus 1 Rancak Bana: “Satu untuk semua, semua untuk satu.” Sebuah pesan bahwa menghadapi perubahan pendidikan tidak cukup dilakukan seorang diri. Guru perlu bergerak bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama. (Hengki Refegon).

