Pengawas dan Kepala Sekolah Gugus 1 Bukittinggi Perkuat Kolaborasi untuk Mendorong Pembelajaran Mendalam
BUKITTINGGI, blknnews.com, — Pengawas sekolah bersama kepala sekolah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Gugus 1 Kota Bukittinggi menggelar kegiatan koordinasi dan pembinaan di SD Negeri 10 Aur Tajungkang Tengah Sawah (ATTS), Jumat, 7 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi untuk memperkuat tata kelola sekolah dan meningkatkan mutu pembelajaran.
Kegiatan KKKS Gugus 1 ini mempertemukan kepala sekolah dari sejumlah satuan pendidikan dasar, bersama pengawas sekolah. Sekolah yang tergabung dalam Gugus 1 terdiri atas SD Negeri 01 Benteng sebagai sekolah inti dengan kepala sekolah Dasril, S.Pd., M.Pd.; SD Negeri 07 Teladan yang dipimpin Efry Yenny, S.Pd.; SD Negeri 10 ATTS dengan kepala sekolah Afriyenni, S.Pd.; SD Negeri 12 Bukit Cangang yang dipimpin Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd.; SD Negeri 14 ATTS dengan kepala sekolah Rahmad Fuad, S.Pd., M.Pd.I.; serta SD Fransiscus yang dipimpin Triwahyuni, S.Pd.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Pengawas Sekolah Gugus 1, Sri Yomila Putri, M.Pd. Agenda utama difokuskan pada evaluasi program kerja, penguatan kepemimpinan kepala sekolah, penyelarasan implementasi kurikulum, serta pembahasan strategi peningkatan kualitas pembelajaran.
Kepala SD Negeri 10 ATTS, Afriyenni, S.Pd., mengatakan forum KKKS bukan sekadar agenda koordinasi rutin. Menurut dia, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesamaan visi antarsekolah dalam menjawab tantangan pendidikan sekaligus mendukung arah pembangunan pendidikan Kota Bukittinggi.
“Kami ingin membangun optimisme bersama antara pengawas dan kepala sekolah di Gugus 1 untuk terus memajukan pendidikan. Sekolah harus mampu bergerak secara adaptif, kolaboratif, dan tetap berorientasi pada perkembangan peserta didik,” ujar Afriyenni.
Ia mengatakan penguatan pendidikan di tingkat sekolah perlu ditempatkan dalam kerangka mendukung program Bukittinggi Gemilang, terutama pada aspek peningkatan kualitas karakter, penguatan ketahanan keluarga, serta optimalisasi waktu belajar peserta didik.
Menurut Afriyenni, terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah penguatan Sekolah Keluarga Gemilang yang menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam proses pendidikan anak.
Program tersebut, kata dia, diarahkan untuk memperkuat fungsi keluarga sehingga orang tua memiliki pemahaman dan kemampuan yang lebih baik dalam mendampingi tumbuh kembang serta pendidikan anak. Pendidikan, menurutnya, tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga berlangsung dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Pembentukan karakter anak membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga dan lingkungan. Karena itu, penguatan peran keluarga menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan,” katanya.
Aspek lain yang dibahas adalah optimalisasi waktu belajar. Kebijakan enam hari sekolah bagi jenjang SD dan SMP dipandang perlu diikuti dengan pengelolaan pembelajaran yang efektif agar penambahan waktu tidak sekadar menambah durasi berada di sekolah, tetapi benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Selain itu, kepala sekolah Gugus 1 juga memberikan perhatian terhadap pembangunan lingkungan pendidikan berkarakter. Lingkungan sekolah yang bersih, tertib dan nyaman dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Pengenalan tokoh-tokoh nasional di lingkungan kelas juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan keteladanan, nasionalisme dan inspirasi bagi peserta didik.
Mendorong Pembelajaran Mendalam
Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan KKKS Gugus 1 adalah implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di seluruh sekolah yang tergabung dalam gugus tersebut.
Afriyenni mengatakan pembelajaran mendalam perlu dipahami bukan sekadar sebagai metode baru, tetapi sebagai pendekatan yang mendorong peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, memahami konsep secara utuh, mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, serta membangun kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
“Implementasi pembelajaran mendalam perlu dilakukan secara bersama-sama. Kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan guru memperoleh ruang untuk berinovasi, melakukan refleksi pembelajaran, dan mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ujar dia.
Ia menambahkan, keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan pembelajaran di masing-masing sekolah. Kepala sekolah tidak hanya dituntut menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak peningkatan kualitas pembelajaran.
Karena itu, forum KKKS Gugus 1 diharapkan menjadi ruang berbagi praktik baik antarsekolah. Pengalaman satu sekolah dapat menjadi pembelajaran bagi sekolah lain, sementara berbagai persoalan yang dihadapi dapat dibahas secara kolektif untuk menemukan solusi yang lebih tepat.
Pengawas Sekolah Gugus 1, Sri Yomila Putri, M.Pd., bersama para kepala sekolah juga mendorong agar koordinasi semacam ini terus dilakukan secara berkala. Penguatan kolaborasi dinilai penting agar program sekolah tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan memiliki arah yang selaras dengan kebijakan pendidikan daerah.
Pertemuan tersebut pada akhirnya menegaskan satu hal: peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dari atas, tetapi membutuhkan kerja bersama di tingkat satuan pendidikan.
Dari Gugus 1, para kepala sekolah berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memperkuat karakter, membangun budaya sekolah yang positif, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memastikan setiap kebijakan bermuara pada kepentingan peserta didik.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, KKKS Gugus 1 Bukittinggi menempatkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang adaptif, berkarakter dan mampu menjawab perubahan zaman, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan pendidikan Bukittinggi yang semakin gemilang. (Hengki Refegon).


