-->
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PGRI Kota Bukittinggi Konsolidasi Organisasi; Tegaskan Peran Advokasi dan Peningkatan Kompetensi Guru

PGRI Kota Bukittinggi Konsolidasi Organisasi; Tegaskan Peran Advokasi dan Peningkatan Kompetensi Guru


BUKITTINGGI, blknnews.com, — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bukittinggi menggelar konsolidasi pengurus bersama pengurus cabang dan pengurus ranting se-Kota Bukittinggi, Sabtu, 31 Januari 2026, di Aula SD Negeri 03 Pakan Kurai.  

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, S.Si., M.Si., jajaran pengurus PGRI Kota Bukittinggi, ketua cabang, serta ketua ranting PGRI dari seluruh sekolah di Kota Bukittinggi.

Konsolidasi ini menegaskan arah baru PGRI sebagai organisasi profesi yang tidak berhenti pada kegiatan seremoni, tetapi hadir nyata dalam advokasi, penguatan organisasi, dan peningkatan kesejahteraan guru.

Ketua PGRI Kota Bukittinggi, Haji Heru Triastanawa, dalam sambutannya menekankan pentingnya memperkuat fungsi advokasi terhadap guru. Menurut dia, PGRI harus dimaknai sebagai organisasi profesi yang aktif memperjuangkan kepentingan anggotanya, bukan sekadar wadah kegiatan tahunan yang bersifat simbolik.

“PGRI harus hadir membela guru dan memastikan hak-hak profesi terlindungi,” kata Heru.

Pandangan itu diperkuat Wakil Ketua PGRI Kota Bukittinggi, Mulyadi. Ia menegaskan PGRI merupakan wadah perjuangan guru-guru yang pada dasarnya adalah individu-individu hebat, sehingga harus dikelola oleh pengurus yang juga memiliki kapasitas dan komitmen yang kuat.

“Soliditas pengurus dan anggota adalah kunci. Pengurus bertekad mengurus PGRI dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Mulyadi memaparkan sejumlah fokus kerja PGRI ke depan, antara lain peningkatan kompetensi guru, penguatan organisasi, kegiatan sosial dan bantuan bagi guru, advokasi hukum bagi anggota yang menghadapi persoalan, peningkatan kesejahteraan, serta pembentukan dan penguatan pengurus cabang. Menurut dia, perjuangan PGRI hanya bisa berhasil jika dilakukan secara kolektif.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, menyampaikan bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan atau bungo galeh dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Ia mengingatkan bahwa narasi keliru yang disampaikan berulang-ulang dapat dianggap sebagai kebenaran, sehingga perlu diwaspadai oleh dunia pendidikan.

Albertiusman menilai di tingkat sekolah sejatinya telah terbangun budaya saling mengenal, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Jika diperkuat melalui ranting PGRI, hal itu akan menjadi fondasi kuat bagi gerakan perjuangan organisasi. “Menjadi guru adalah pilihan profesi yang bersifat fardu ain untuk memajukan pendidikan. Guru harus menjadi teladan, dicontoh dan ditiru,” ujarnya.

Ia juga menyinggung fenomena “bad news is good news” yang kerap memviralkan sisi negatif dunia pendidikan dan berpotensi mendegradasi peran guru. Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi kajian serius PGRI agar guru tidak takut bertindak dan fungsi pendidikan tetap berjalan. Di tengah melemahnya institusi keluarga dan agama akibat berbagai kepentingan, Albertiusman menilai lembaga pendidikan menjadi benteng terakhir pembentukan karakter peserta didik.

Dalam konteks organisasi, Albertiusman menegaskan bahwa PGRI merupakan mitra strategis Dinas Pendidikan. Ia menekankan pentingnya soliditas pengurus dan anggota serta kemandirian pendanaan agar organisasi dapat tumbuh besar dan berkelanjutan.

Hasil konsolidasi tersebut menyepakati percepatan pelaksanaan konferensi cabang di setiap kecamatan serta pembentukan pengurus ranting di seluruh sekolah di Kota Bukittinggi. Dengan langkah itu, PGRI Kota Bukittinggi diharapkan semakin solid dan kuat dalam menjalankan peran perjuangannya bagi guru dan pendidikan. (Hengki Refegon). 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.