Kwarcab Pramuka Bukittinggi Bentuk PUSINFO, Menjawab Tantangan Citra Organisasi di Era Digital.
BUKITTINGGI, blknnews.com, — Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) XIII Kota Bukittinggi mulai menata ulang strategi komunikasinya di tengah perubahan lanskap informasi digital. Melalui pembentukan Pusat Informasi (PUSINFO), Kwarcab berupaya memperkuat citra organisasi sekaligus merespons tuntutan transparansi dan kecepatan informasi di era media sosial.
Pembentukan PUSINFO tersebut diputuskan dalam rapat internal yang digelar pada Jumat, 30 Januari 2026, di Kantor Kwarcab Kota Bukittinggi. Rapat dipimpin Sekretaris Kwarcab Kota Bukittinggi, Ilham Tanjung, didampingi Andalan Cabang Urusan Humas, Susanda Febriani.
Langkah ini merujuk pada Petunjuk Penyelenggaraan (Jukran) Pramuka Nomor 2 Tahun 2021 yang menekankan pentingnya sistem informasi organisasi. Namun, lebih dari sekadar memenuhi mandat administratif, PUSINFO diproyeksikan sebagai instrumen modernisasi kepramukaan, terutama dalam memanfaatkan media digital sebagai kanal utama komunikasi publik.
“Dunia sudah berubah ke arah digital. Informasi kepramukaan tidak cukup hanya benar, tapi juga harus cepat dan dikemas menarik agar relevan dengan generasi hari ini,” kata Ilham Tanjung dalam rapat tersebut.
Selama ini, aktivitas kepramukaan di tingkat cabang kerap berjalan aktif namun minim dokumentasi dan publikasi. Akibatnya, berbagai kegiatan dan prestasi Pramuka kurang tersampaikan ke masyarakat luas. Kehadiran PUSINFO diharapkan menjadi simpul informasi yang mampu menjembatani Kwarcab dengan gugus depan (gudep), sekaligus menjadi etalase resmi kegiatan Pramuka Bukittinggi.
Rapat berlangsung relatif singkat namun efektif. Para peserta sepakat bahwa PUSINFO akan berperan mengekspose seluruh kegiatan Kwarcab XIII secara terencana dan profesional. Fokusnya tidak hanya pada pelaporan kegiatan, tetapi juga pada penyebaran nilai-nilai kepramukaan yang relevan dengan tantangan sosial generasi muda.
Pembentukan PUSINFO menandai kesadaran baru Gerakan Pramuka di tingkat daerah bahwa eksistensi organisasi di era digital tidak lagi ditentukan oleh banyaknya kegiatan semata, melainkan oleh kemampuan mengelola narasi, membangun citra, dan menjaga kepercayaan publik melalui informasi yang akurat dan berkelanjutan. (Hengki Refegon).
