Pengawas Sekolah Tekankan Disiplin dan Karakter Murid di SD Negeri 10 ATTS Bukittinggi
BUKITTINGGI, BLKNNEWS.COM, — Upacara bendera di SD Negeri 10 Aua Tajungkang Tengah Sawah (ATTS), Kota Bukittinggi, Senin, 24 Agustus 2026, tak sekadar menjadi rutinitas awal pekan. Di hadapan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh murid, Pengawas Sekolah Sri Yomila Putri, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pesan tentang disiplin dan karakter—termasuk satu hal yang kerap luput dibicarakan: keteladanan guru.
Sri Yomila bertindak sebagai pembina upacara. Ia mengawali amanat dengan mengapresiasi para petugas yang dinilai telah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Peserta upacara juga mendapat apresiasi karena mengikuti kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Pada saat Sri Yomila menyampaikan amanat terdengar jelas inti dari amanatnya, bukan hanya sekadar pujian belaka. Pada kesempatan itu, ada tiga pesan yang ia titipkan kepada murid. Pertama, mereka harus tumbuh menjadi murid yang hebat dan gemilang. Kedua, mereka harus membiasakan diri hidup disiplin. Ketiga, mereka harus membangun karakter melalui tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
Bagi Sri Yomila Putri , pendidikan tidak berhenti pada nilai yang tercetak di buku rapor. Disiplin dan karakter justru dibentuk dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, termasuk bagaimana seorang murid mengikuti aturan, menghargai waktu, menjalankan tanggung jawab, dan bersikap terhadap orang lain.
Sri Yomila Putri , mengingatkan majelis guru bahwa keteladanan tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Guru, kata dia, harus menunjukkan nilai-nilai tersebut melalui perilaku sehari-hari. Murid akan melihat, memperhatikan, lalu meniru apa yang dilakukan gurunya.
Karena itu, guru dituntut benar-benar mengimplementasikan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, dalam pandangan tersebut, bukan semata-mata proses memindahkan pengetahuan, melainkan proses menuntun tumbuhnya anak agar berkembang sesuai kodrat dan potensinya.
Dengan kata lain, karakter murid tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada murid.
Lingkungan sekolah dan orang dewasa yang berada di sekeliling mereka juga mempunyai peran besar.
Kepala Sekolah Apresiasi Pengawas
Kepala SD Negeri 10 ATTS, Afriyenni, S.Pd., menyampaikan terima kasih kepada Sri Yomila yang telah bersedia menjadi pembina upacara.
Menurut Afriyenni, kehadiran pengawas sekolah dan pesan yang disampaikan dalam amanat upacara menjadi bagian penting dalam memberikan penguatan kepada warga sekolah.
“Terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Pengawas Sekolah yang telah bersedia menjadi pembina upacara,” ujar Afriyenni.
Usai upacara, kegiatan berlanjut dengan penyerahan hadiah Gebyar HUT Republik Indonesia ke-81. Para pemenang lomba menerima penghargaan dari panitia. Mereka terdiri atas murid, guru, dan wali murid.
Gebyar HUT RI ke-81 tersebut digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kegiatan bukan hanya menjadi arena perlombaan, tetapi juga mempertemukan berbagai unsur warga sekolah dalam suasana perayaan kemerdekaan.
30 Murid Disaring untuk Program Tahfidz
Pada hari yang sama, Sabtu, 22 Agustus 2026, SD Negeri 10 ATTS juga menggelar seleksi calon peserta program Tahfidz. Sebanyak 30 murid dari kelas III, IV, dan V mengikuti seleksi tersebut.
Program ini merupakan kerja sama sekolah dengan Lembaga Tahfidz Tahsin Quran (LTTQ) Haneen Akira.
Skema program melibatkan tiga pihak. LTTQ Haneen Akira bertindak sebagai pihak pertama sekaligus penyedia program. Pihak kedua adalah orang tua asuh yang berperan sebagai donatur. Adapun sekolah menjadi pihak ketiga yang menyediakan murid sebagai peserta program.
Bagi SD Negeri 10 ATTS, program tersebut membuka ruang bagi pendidikan Al-Qur’an untuk berjalan beriringan dengan pendidikan umum di sekolah.
Afriyenni menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia juga menyampaikan terima kasih karena SD Negeri 10 ATTS dipercaya sebagai salah satu sekolah penerima program.
“Kami sangat mendukung program Tahfidz ini dan berterima kasih karena sekolah kami dipilih sebagai penerima program,” kata Afriyenni.
Rangkaian kegiatan pada akhir pekan dan awal pekan itu memperlihatkan dua sisi kehidupan sekolah: merayakan kemerdekaan melalui kebersamaan dan perlombaan, sekaligus memperkuat pendidikan melalui disiplin, keteladanan, karakter, serta pembelajaran Al-Qur’an.
Di tengah tuntutan sekolah untuk menghasilkan murid berprestasi, pesan Sri Yomila mengingatkan satu hal mendasar: pendidikan karakter tidak cukup diajarkan. Ia harus dicontohkan. (Hengki Refegon).



