PGRI Kota Bukittinggi Perkuat Konsolidasi Internal, Tegaskan Fokus Substansi Organisasi.
BUKITTINGGI, blknnews.com, 14 Januari 2026— Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bukittinggi di bawah kepemimpinan H. Heru Triastanawa menggelar rapat konsolidasi internal jajaran pengurus di SD Negeri 02 Percontohan. Rapat ini untuk lebih memantapkan arah organisasi ke depannya.
Dalam rapat tersebut, Ketua PGRI Kota Bukittinggi menyampaikan sejumlah agenda prioritas. Salah satu yang dinilai mendesak adalah pelaksanaan konsolidasi internal dengan melibatkan pengurus ranting sebagai basis keanggotaan.
Konsolidasi ini dipandang penting untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus sebagai bagian dari persiapan untuk pelaksanaan Konferensi Cabang PGRI pada masing masing kecamatan.
PGRI adalah organisasi besar bahkan mungkin salah satu organisasi profesi guru yang terbesar di Indonesia dengan sejarah panjang dalam perjuangan guru. Namun, besarnya organisasi tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan gagasan. Terlalu sering organisasi profesi terjebak pada ritual tahunan: rapat, seremonial, laporan, dan iuran.
Sejumlah pengurus menekankan bahwa PGRI sebagai organisasi profesi besar perlu terus melakukan pembenahan internal agar tetap relevan dengan kebutuhan anggotanya.
Rahmad Fuad mengingatkan agar PGRI tidak terjebak pada pola kegiatan seremonial semata.
“PGRI jangan sampai terbelenggu oleh rutinitas seremonial dan administratif. Organisasi harus mampu berpikir lebih terbuka dan inovatif “ Out of the box” untuk meningkatkan kompetensi anggota serta memberikan perlindungan hukum bagi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya,” ujar Rahmad Fuad.
Ia menambahkan, tantangan guru saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga persoalan perlindungan profesi di tengah dinamika kebijakan dan tuntutan masyarakat. Karena itu, PGRI diharapkan mampu menghadirkan program-program yang berdampak langsung bagi anggota.
Senada dengan itu, Anton Hilman menegaskan bahwa PGRI merupakan organisasi profesi yang bersifat independen dan tidak terlibat dalam politik praktis. Menurutnya, independensi tersebut menjadi modal penting agar PGRI dapat fokus memperjuangkan kepentingan guru secara objektif dan profesional.
“PGRI berdiri sebagai organisasi profesi. Independensi ini harus dijaga agar organisasi tetap konsisten memperjuangkan hak, martabat, dan perlindungan guru,” kata Anton Hilman.
Sementara itu, Mulyadi meminta seluruh jajaran pengurus untuk menunjukkan komitmen penuh dalam menjalankan amanah organisasi. Ia menekankan bahwa keberhasilan program PGRI sangat ditentukan oleh kesungguhan dan kerja kolektif pengurus di semua tingkatan.
Penekanan pada komitmen penuh jajaran pengurus ini, merupakan poin krusial. Banyak organisasi gagal bukan karena kekurangan struktur, tetapi karena pengurusnya setengah hati. Jabatan dijalani sebagai formalitas, bukan amanah. Padahal, organisasi profesi hidup dari kerja kolektif, bukan dari satu dua figur.
Kemudian Joni Eka Putra juga menyampaikan “Rapat konsolidasi ini diharapkan menjadi momentum penguatan internal PGRI Kota Bukittinggi, tidak hanya secara struktural tetapi juga secara substantif. Melalui konsolidasi yang solid dan program yang terarah, PGRI diharapkan mampu hadir sebagai organisasi profesi yang adaptif, responsif, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para guru.”
PGRI harus tetap relevan, ia harus berani menata ulang orientasi: dari organisasi acara menjadi organisasi advokasi; dari sibuk ke dalam menjadi hadir ke luar; dari simbol persatuan menjadi alat perjuangan nyata. Guru tidak membutuhkan organisasi yang pandai berfoto bersama, tetapi organisasi yang berdiri di depan ketika mereka disudutkan dan butuh perlindungan serta kepastian hukum dalam menjalankan tugas pokoknya. (Hengki Refegon).

