IGI Kota Bukittinggi Membidani Lahirnya Majalah Digital Sekolah
BUKITTINGGI, BLKNNEWS.COM, — Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bukittinggi membidani lahirnya gerakan baru literasi sekolah melalui Pelatihan Membuat Majalah Digital Sekolah bagi kepala sekolah dan guru se-Kota Bukittinggi. Kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk membawa tradisi menulis di lingkungan pendidikan ke ruang digital yang lebih luas.
Pelatihan yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah (DPD) IGI Kota Bukittinggi itu berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 17–19 September 2026, di Gedung Pertanian Provinsi Sumatera Barat, Bukittinggi. Sebanyak 130 kepala sekolah dan guru mengikuti kegiatan tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, H. Albertiusman, S.Si., M.Si., secara resmi membuka pelatihan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa menulis merupakan bagian penting dari tradisi intelektual sekaligus cara untuk menjaga agar gagasan dan kebaikan tidak berhenti pada satu generasi.
Menurut Albertiusman, orang yang menulis pada dasarnya adalah mereka yang memiliki tradisi membaca. Ia mengaitkannya dengan pesan awal wahyu dalam Surah Al-’Alaq ayat 1–5 yang menempatkan aktivitas membaca sebagai pintu masuk pengetahuan.
“Orang-orang yang menulis adalah mereka yang selalu membaca. Menulis adalah sesuatu yang strategis karena dengan menulis kita menjadikan pemikiran panjang umur,” ujar Albertiusman.
Ia mengatakan, tulisan memungkinkan gagasan, pengalaman, dan kekayaan intelektual seseorang ditransformasikan kepada generasi berikutnya. Karena itu, guru tidak semestinya berhenti pada aktivitas mengajar, tetapi juga terus berada dalam proses pendidikan dan pengembangan diri.
“Guru harus senantiasa berada dalam proses pendidikan. Guru harus mengilmui apa yang akan diajarkannya. Pada diri guru mesti ada hikmah dan kebaikan yang dapat diambil,” katanya.
Albertiusman mencontohkan bagaimana generasi hari ini mengenal tokoh-tokoh besar dari masa lalu melalui karya yang mereka tinggalkan. Gagasan para ulama, ilmuwan, pemikir, dan tokoh pendidikan dapat terus dibaca lintas zaman karena mereka meninggalkan jejak dalam bentuk tulisan.
“Maka, menulislah agar kebaikan dan pikiran kita dapat dikenali oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk tetap menjaga orisinalitas dan tujuan utama pendidikan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi.
Majalah Digital sebagai Jembatan Karya Sekolah
Ketua IGI Kota Bukittinggi, Firman Adhani, S.Pd; mengatakan perubahan teknologi telah mengubah cara generasi muda memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Menurut dia, sekolah tidak cukup lagi hanya mengandalkan tradisi literasi konvensional.
“Dunia pendidikan kini telah berubah. Tak lagi cukup hanya dengan pena dan kertas. Anak-anak kita hidup di zaman di mana dunia bertemu dalam satu layar,” kata Firman.
Ia menilai majalah digital dapat menjadi medium baru bagi sekolah untuk mendokumentasikan sekaligus mempublikasikan berbagai karya guru dan peserta didik.
“Majalah digital bukan sekadar perubahan bentuk. Ia adalah jembatan baru yang menghubungkan karya anak didik kita dengan dunia luar, menjadikan suara mereka didengar, bakat mereka terlihat, dan nama sekolah serta Kota Bukittinggi dikenal di mana saja,” ujarnya.
Bagi IGI, kata Firman, pelatihan tersebut bukan sekadar agenda peningkatan kompetensi guru dalam menguasai teknologi. Lebih jauh, kegiatan itu diharapkan melahirkan budaya baru: sekolah menjadi ruang yang produktif dalam menulis, mendokumentasikan kegiatan, mengembangkan kreativitas siswa, sekaligus menyebarluaskan praktik baik pendidikan.
Firman juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atas dukungan terhadap kegiatan tersebut, termasuk melalui dana hibah yang memungkinkan program pelatihan terlaksana.
“Bukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali kami merasakan hadirnya pemerintah kota di tengah kami. Bukan janji yang tertulis di atas papan pengumuman, melainkan bukti nyata yang kami lihat, kami rasakan, dan kami manfaatkan setiap hari,” katanya.
Ia menyebut dukungan pemerintah hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari peningkatan kompetensi guru, dukungan terhadap sarana dan prasarana pembelajaran, hingga pengembangan literasi dan teknologi.
“Ketika guru membutuhkan pelatihan peningkatan kompetensi, ketika sekolah memerlukan sarana dan prasarana belajar, dan ketika kami ingin membuka cakrawala baru di dunia literasi dan teknologi, Pemerintah Kota Bukittinggi hadir,” ujar Firman.
“Dan hari ini, ketika kami menyusun langkah untuk majalah digital, Bukittinggi kembali hadir melalui dana hibah yang begitu berarti, yang menjembatani impian kami menjadi kenyataan,” lanjutnya.
Menurut Firman, dukungan tersebut tidak semata-mata dapat dipandang sebagai pembiayaan kegiatan. Ia menyebutnya sebagai bentuk kepercayaan kepada guru untuk terus bergerak menghadirkan inovasi di bidang pendidikan.
“Dana yang pemerintah kota berikan ini bukan sekadar biaya kegiatan. Bagi kami, para guru, ini adalah tanda percaya. Ini adalah bukti bahwa Pemerintah Kota Bukittinggi memandang kami bukan sekadar pengajar, melainkan penggerak masa depan,” katanya.
Karena itu, Firman meminta peserta tidak menjadikan pelatihan tersebut sebagai kegiatan seremonial yang berhenti setelah acara ditutup. Pengetahuan tentang menulis, mengelola konten, desain, dan pemanfaatan teknologi diharapkan dibawa kembali ke sekolah masing-masing.
“Jadikan majalah digital itu sebagai wajah sekolah kita, sebagai wadah karya murid, sebagai bukti bahwa guru-guru Bukittinggi mampu berdiri sejajar dengan siapa pun, di mana pun,” ujarnya.
Ia mengajak para guru membalas kepercayaan tersebut dengan karya yang dapat memberikan manfaat bagi sekolah dan kota.
“Jika kota ini memuliakan kita, maka marilah kita memuliakan kota ini dengan karya-karya yang membanggakan. Bukittinggi gemilang bukan karena dikatakan, melainkan karena kita yang mewujudkannya,” kata Firman.
Tiga Hari, Tiga Perspektif
Sekretaris IGI Kota Bukittinggi, Asral Puadi, S.PdI, mengatakan pelatihan dirancang dalam tiga hari dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang yang relevan dengan kebutuhan pengembangan majalah digital sekolah.
Hari pertama menghadirkan Yusrizal KW sebagai narasumber. Materi diarahkan pada penguatan kemampuan jurnalistik dan penulisan, sebagai fondasi utama dalam membangun konten majalah sekolah.
Pada hari kedua, peserta mendapatkan materi desain dari Rio, dengan penekanan pada pemanfaatan perangkat dan sumber daya desain yang dapat digunakan secara gratis.
Sementara pada hari ketiga, materi berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi menghadirkan Rahmad Syah Mulya, S.Kom., M.M., Kepala Bidang Aplikasi Informatika pada lingkungan Pemerintah Kota Bukittinggi.
Asral mengatakan rangkaian materi tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami bagaimana menulis, tetapi juga mampu mengemas tulisan menjadi produk digital yang menarik, informatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Dengan demikian, pelatihan tiga hari itu diharapkan menjadi titik awal lahirnya majalah digital di sekolah-sekolah Kota Bukittinggi. Di tangan guru dan siswa, majalah sekolah tidak lagi sekadar kumpulan tulisan dan dokumentasi kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi arsip pengetahuan, ruang kreativitas, serta etalase praktik baik pendidikan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, sekolah dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi. Melalui tradisi menulis dan penerbitan digital, sekolah dapat mengambil posisi sebagai produsen pengetahuan—merekam apa yang dikerjakan, membagikan apa yang dipelajari, dan meninggalkan jejak bagi generasi yang datang kemudian. (Hengki Refegon).

