Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SD Negeri 10 ATTS Bukittinggi, Menguatkan Keteladanan Bagi Generasi Muda
BUKITTINGGI, BLKNNEWS.COM, — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SD Negeri 10 Aur Tajungkang Tengah Sawah (ATTS) Kota Bukittinggi tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum 12 Rabiul Awal 1448 H/2026 itu dimanfaatkan sekolah untuk menanamkan keteladanan Rasulullah SAW kepada para murid melalui Tabligh Akbar yang digelar Jumat, (28/8/2026).
Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Syofiarnis sebagai penceramah tersebut diikuti keluarga besar SD Negeri 10 ATTS, terdiri atas murid dan majelis guru. Selama sekitar 120 menit, suasana aula sekolah berubah menjadi ruang pembelajaran keagamaan yang mengajak peserta mengenal lebih dekat sosok dan perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Tabligh Akbar dipandu Yulia Prima Dewi, S.Pd. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Asyraf Azzam Ramadhan disertai saritilawah oleh Raffa Ibnu Alvaro dan ditutup dengan doa oleh Dzaky Ibnu Ghalin
Kepala SD Negeri 10 ATTS, Afriyenni, mengatakan peringatan Maulid Nabi merupakan bagian dari agenda Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang telah dirancang sekolah dan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut memiliki tujuan lebih jauh daripada sekadar memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
“Melalui kegiatan ini, murid-murid diharapkan mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW sehingga semakin mencintai dan mampu meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Afriyenni.
Empat Sifat Rasulullah
Dalam tausiyahnya, Ustadz Syofiarnis membawa peserta menyelami kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan gaya penyampaian yang khas dan komunikatif, ia mampu menjaga perhatian murid dan majelis guru sepanjang kegiatan.
Pesan yang disampaikan pun diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan anak-anak di sekolah. Menurut Ustadz Syofiarnis, keberhasilan seorang murid tidak cukup hanya diukur dari kemampuan akademik. Karakter dan akhlak menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan.
Ia mengajak para murid meneladani empat sifat utama Nabi Muhammad SAW, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Siddiq berarti jujur, amanah berarti dapat dipercaya, tabligh berarti menyampaikan kebenaran, sedangkan fathanah berarti cerdas. Empat sifat tersebut, kata dia, perlu dibiasakan sejak dini agar menjadi karakter yang melekat dalam diri anak.
Pesan itu menjadi relevan bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya dituntut melahirkan murid yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki integritas, tanggung jawab, kecerdasan, dan kepedulian terhadap sesama.
Ustadz Syofiarnis juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat Islam. Karena itu, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengingat sejarah kelahirannya, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Panggung ke Pembiasaan
Nuansa Maulid Nabi semakin terasa dengan penampilan murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Mereka tampil membawakan lagu-lagu Islami, puisi Islami, dan shalawat.
Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan. Panggung Maulid menjadi ruang bagi murid untuk belajar percaya diri, berani tampil, bekerja sama, sekaligus mengekspresikan kecintaan terhadap ajaran Islam.
Bagi SD Negeri 10 ATTS, peringatan Maulid Nabi menjadi salah satu ikhtiar menghadirkan pendidikan yang menyentuh pengetahuan sekaligus karakter. Kisah Rasulullah SAW diharapkan tidak berhenti sebagai materi yang didengar dalam sebuah ceramah, tetapi berlanjut menjadi nilai yang dipraktikkan dalam keseharian.
Kejujuran, amanah, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kecerdasan yang disertai kebijaksanaan menjadi nilai yang diharapkan tumbuh dalam diri para murid.
Dengan demikian, Maulid Nabi di lingkungan sekolah bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia menjadi momentum untuk menyiapkan generasi masa depan yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai sumber keteladanan dalam membangun akhlak dan karakter.
14 Murid SD Negeri 10 ATTS Ikuti Program Tahfidz LTTQ Haneen Akira
Nota kesepahaman ditandatangani sekolah, wali murid, dan LTTQ Haneen Akira sebagai langkah memperkuat pendidikan Al-Qur’an di lingkungan sekolah.
Sebanyak 14 murid SD Negeri 10 Aur Tajungkang Tengah Sawah (ATTS) Kota Bukittinggi dinyatakan lulus seleksi dan mengikuti Program Tahfidz yang dilaksanakan Lembaga Tahfidz Tahsin Quran (LTTQ) Haneen Akira Bukittinggi. Program tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara sekolah, wali murid, dan LTTQ Haneen Akira, Sabtu (29/8/2026).
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar sekolah memperluas ruang pembelajaran Al-Qur’an bagi murid. Pendidikan tahfidz diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pendidikan umum sehingga pembentukan kemampuan akademik dan karakter keagamaan dapat tumbuh secara seimbang.
Program Tahfidz ini melibatkan tiga pihak. LTTQ Haneen Akira bertindak sebagai pihak pertama sekaligus penyedia dan pelaksana program. Pihak kedua adalah orang tua asuh yang berperan sebagai donatur. Sementara sekolah menjadi pihak ketiga yang menyediakan murid sebagai peserta program.
Kepala SD Negeri 10 ATTS, Afriyenni, menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kehadiran program tahfidz memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an secara lebih terarah.
“Kami sangat mendukung program Tahfidz ini dan berterima kasih karena sekolah kami dipilih sebagai penerima program,” kata Afriyenni.
Ia berharap program tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi para murid, khususnya dalam membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an dan membentuk kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak usia sekolah dasar.
Menargetkan Hafal Satu Juz
Pimpinan LTTQ Haneen Akira, Ustadz Fadhil menjelaskan, program tersebut dirancang untuk mewujudkan generasi Qurani yang mencintai Al-Qur’an dan memiliki hafalan yang kuat.
Dalam satu tahun ke depan, peserta program ditargetkan sekurang-kurangnya mampu menghafal satu juz Al-Qur’an. Target tersebut diharapkan dicapai melalui pembinaan yang terarah dan dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, menghafal Al-Qur’an merupakan proses yang membutuhkan kesungguhan dan konsistensi. Namun, proses tersebut juga perlu dijalani dengan keyakinan bahwa Allah SWT memberikan kemudahan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
Karena itu, kegiatan tahfidz diharapkan tidak dipandang sebagai beban tambahan bagi murid, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang memberikan nilai tambah bagi perkembangan mereka.
LTTQ Haneen Akira juga memberikan perhatian terhadap keseimbangan antara pendidikan umum dan kegiatan tahfidz. Apabila terdapat pembelajaran umum yang tertinggal karena mengikuti kegiatan tahfidz, materi tersebut akan diberikan pengganti sehingga peserta tetap dapat mengikuti proses pembelajaran sekolah.
Pendidikan Umum dan Al-Qur’an Berjalan Beriringan
Bagi SD Negeri 10 ATTS, kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an dan pendidikan umum dapat berjalan beriringan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat murid mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Keikutsertaan 14 murid dalam program ini sekaligus menjadi langkah awal membangun lingkungan sekolah yang semakin dekat dengan tradisi membaca, mempelajari, dan menghafal Al-Qur’an.
Kolaborasi antara sekolah, orang tua asuh, dan LTTQ Haneen Akira juga menunjukkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam menghadirkan pendidikan yang lebih utuh bagi anak. Sekolah menyediakan peserta dan lingkungan pendidikan, lembaga tahfidz memberikan pembinaan, sementara orang tua asuh turut menopang keberlangsungan program melalui dukungan sebagai donatur.
Melalui sinergi tersebut, program Tahfidz diharapkan tidak hanya menghasilkan murid yang mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak, disiplin, dan mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (Hengki Refegon).



