Kabar Lingkungan

Rabu, 06 November 2019

Dandim 1626/Bangli Ingatkan dan Waspadai Peralihan Musim

Bangli - Peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan  atau Pancaroba perlu disikapi Jajaran Kodim 1626/Bangli yang berada di wilayah teritorial Kabupaten Bangli yang rentan akan potensi bencana alam.  

Hal tersebut disampaikan Dandim 1626/Bangli Letkol Inf Himawan Teddy Laksono, S.I.Kom., M.Tr., (Han), Senin (04/11/19) di Makodim setempat.

Dandim mengingatkan kepada jajaran untuk waspada  pada saat musim hujan tiba. 

"Setidaknya ada dua hal penting yang perlu saya sampaikan yaitu untuk ke dalam saya ingatkan kepada anggota untuk mengecek kondisi gedung untuk mengantisipasi terjadinya kebocoran yang tentunya akan berdampak pada pengamanan arsip dan alat mesin kantor (Alsintor), sedangkan untuk keluar agar masing-masing jajaran menghimbau masyarakat binaannya untuk selalu waspada dengan potensi kemungkinan terjadi bencana di wilayah masing-masing", ucap Dandim.

Dalam musim hujan bencana yang sering terjadi adalah banjir, tanah longsor, angin kencang dan luapan sampah di drainase. Oleh karena itu budaya hidup bersih seperti jangan membuang sampah sembarangan dan peduli terhadap lingkungan menjadi hal patut kita lakukan.

Pantauan di lapangan sejak 2 hari terakhir beberapa wilayah di Kabupaten Bangli sudah mulai turun hujan dengan intensitas yang bervariasi. 

"Kita syukuri hujan sudah mulai turun, mengurangi suhu yang belakangan terasa panas dan tentunya lingkungan menjadi lebih segar", pungkasnya. (dim1626, @rb)

Rabu, 30 Oktober 2019

Lautan Sampah Kali Jambe Bekasi, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Tunggu Alat Berat


Bekasi - Pemerintah Kabupaten Bekasi siap melakukan pembersihan lautan sampah di Kali Jambe, RW 12 Desa Satria Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Akan tetapi, Pemkab Bekasi masih menunggu alat berat dan armada truk sampah.

"Kita sudah dapat informasinya, kita siap bersihkan. Tapi kami masih tunggu kesiapan alat berat dari Dinas PUPR."

Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Bekasi, Dodi Agus Supriyanto, ketika dikonfirmasi, Selasa (29/10/2019).

Dodi mengatakan, tumpukan sampah di Kali Jambe kerap terjadi. Penyebabnya, kata Dodi, warga sekitar  di bantaran kali membuang sampah sembarangan.

"Sampah bakal kerap muncul sepanjang kesadaran warganya masih minim. Warga juga harus perhatikan lingkungannya ini dong," kata Dodi.

Dia belum bisa memastikan kapan diterjukannya petugas untuk melakukan proses pembersihan tumpukan sampah di Kali Jambe tersebut. Alasannya, pembersihan sampah di Kali Jambe menyesuaikan waktu petugas dan armada truk.

"Petugas dan armada truk kita kan terbatas, nanti kita sesuaikan waktu. Kita tidak bisa langsung, karena dapat menganggu aktivitas pengangkutan sampah di wilayah lain," ucap Dodi.

Dia juga meminta dinas terkait melakukan penertiban bangunan liar di bantaran Kali Jambe tersebut agar tumpukan sampah tak terulang kembali.

"Sampah menumpuk berasal dari rumah tangga yang bermukim di bantaran kali. Maka kami meminta pihak berwenang untuk menertibkan bangunan liar itu," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kali Jambe, RW 12 Desa Satria Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, dipenuhi tumpukan sampah. Tumpukan sampah mengubali aliran Kali Jambe menjadi daratan karena sampah terus menumpuk dan padat.

Berdasarkan pengamatan Warta Kota, tumpukan sampah itu didominasi sampah rumah tangga, plastik, dan styrofoam. Bahkan terlihat ada sampah kasur, bantal, kayu, batang pohon pisang hingga kulkas bekas. Sejumlah anak-anak memanfaatkan tumpukan sampah yang seperti daratan itu sebagai area bermain.

Tumpukan sampah itu membuat air di Kali Jambe tak terlihat lagi, tumpukan sampah tampak seperti daratan. Anak-anak itu naik di atas tumpukan sampah, menyeberang dari tepi kali sisi barat ke tepi kali sisi timur. Padatnya tumpukan sampah itu membuat sejumlah anak-anak bermain di atas lokasi tumpukan sampah tanpa khawatir ambles.

Ketua RW 12 Desa Satria Jaya Tambun Utara, Ruslan mengatakan tumpukan sampah itu muncul ketika hujan turun deras, Minggu (27/10/2019) lalu. Sampah itu merupakan sampah kiriman dari hulu Kali Jambe tersebut.

"Ini bukan sampah warga kami, ini sampah kiriman. Kebawa saat hujan turun, nah mampet ketahan di sini," ucapnya.

Ruslan memerkirakan panjang tumpukan sampah itu mencapai 200 meter. Kejadian tumpukan sampah baru pertama kali terjadi. Sebelumnya tumpukan sampah di Kali Jambe ini kerap terjadi, akan tetapi berada di titik lain.

"Kalau di wilayah kami ini baru kali ini, paling ada tumpukan di titik lain. Biasa kalau tumpukan sampah ini muncul kalau abis hujan atau musim kemarau," katanya.

Tumpukan sampah udah dua hari itu mulai dikeluhkan warga. Ruslan berharap agar pemerintah setempat segera melakukan pembersihan tumpukan sampah tersebut.

"Semoga segera diangkut, ini cukup padat dan banyak sampah. Engga bisa diangkut manual, harus pakai alat berat," ujar Ruslan.

Menteri LHK Ajak Siswa Sekolah Global Mandiri Jaga Lingkungan Hidup


Jakarta - Pada awal jabatannya di periode kedua sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengunjungi Sekolah Global Mandiri untuk berbagi inspirasi dan mengajak siswa sekolah bersama-sama menjaga lingkungan hidup dan kehutanan.

Siti dalam keterangan tertulis.yang diterima di Jakarta, Selasa, menekankan karakter yang terbentuk pada siswa sekolah menentukan Indonesia di masa depan.

“Kerja lima tahun belakangan mengindikasikan banyak kemajuan. Terlihat anak-anak sekolah sekarang sudah membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik,” katanya usai mengisi kelas inspirasi di Sekolah Global Mandiri di Cibubur, Jawa Barat.

Ia menyatakan sedang merancang kegiatan yang melibatkan sekolah-sekolah. Dirinya menganggap penting untuk bersama-sama masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.

“Presiden (Joko Widodo) berpesan, yang paling penting adalah bagaimana implementasi oleh rakyat, untuk rakyat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Siti juga membagikan bibit pohon multiguna seperti rambutan, mangga, dan nangka untuk ditanam para siswa dan sekolah. Selanjutnya menteri mengajak agar setiap siswa hingga dewasa menanam setidaknya 25 batang pohon.

Selain untuk menjaga agar alam tetap hijau, menanam pohon juga bermanfaat untuk menghasilkan oksigen dan mencegah bencana perubahan iklim, ujar dia.

Sekitar 300 siswa sangat antusias mengikuti acara tersebut. Selain siswa, acara tersebut juga dihadiri perwakilan orangtua.

Seorang siswa, Andi Salman Nazafi sempat bertanya tentang apa penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Siti menjawab karhutla bisa terjadi akibat faktor alam karena gesekan serasah. Namun, karhutla lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia.

“Ada yang akibat buang puntung rokok sembarangan, ada juga karena pembakaran untuk membuka ladang dan kebun,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah terus melakukan upaya pemadaman terhadap kejadian karhutla. Pemerintah juga melakukan kontrol ketat pengelolaan lahan untuk mencegah kejadian karhutla.

“Petugas Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api terus bekerja di lapangan, BPBD juga aktif. Pemerintah masih waspada hingga pertengahan November,” kata Siti.

Data dari Sistem Monitoring Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah titik panas pada hari ini, berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua (dengan tingkat kepercayaan lebih besar dari 80 persen) sebanyak 52 titik. Jumlah ini telah turun jauh dibandingkan pekan lalu yang tercatat lebih dari 600 titik.

Kepala Sekolah Global Mandiri Anna Budiatmi menyatakan kedatangan Menteri Siti diharapkan bisa menginspirasi para siswa untuk menggapai cita-citanya. “Kedatangan Bu Menteri sekaligus mengajak anak-anak untuk lebih peduli pada lingkungan”.

Anna menyatakan pihak sekolah sudah mewajibkan siswa untuk membawa botol dan dan kotak makanan dari rumah untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu, mereka juga wajib mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang untuk kemudian "ditabung" di Bank Sampah sekolah.

Sampah tersebut akan didaur ulang menjadi berbagai produk yang bisa dimanfaatkan kembali atau produk kerajinan.

“Ini memang kampanye sederhana tapi sebagai generasi penerus, pendidikan lingkungan hidup perlu dilakukan sejak dini,” katanya. (ANTARA)

Selasa, 29 Oktober 2019

Pemprov Bali Gelar Konsultasi Publik Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) TPA Sarbagita Suwung


Denpasar - Pemerintah Provinsi Bali menggelar Konsultasi Publik Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) TPA Sarbagita Suwung di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Jumat (25/10). Konsultasi publik dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Permukiman, Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Haryo Bekti Martoyoedo, S.T., M.Sc, Ketua Komisi III DPRD Bali I Kadek Diana, instansi terkait, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan dan akademisi.

Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan penanganan sampah di TPA Suwung tadinya diselenggarakan oleh pemerintah Sarbagita namun karena masalahnya semakin terakumulasi dan sampah semakin banyak, dalam rangka pertemuan IMF-World pemerintah pusat membantu melakukan penataan di TPA Suwung. “Sekarang sudah ditata baik tapi setiap hari ada pemasukan sampah setiap hari sehingga diperlukan pengolahan sampah,” kata pejabat asal Buleleng ini.

Mantan Kepala Pelaksana BPBD Bali ini menambahkan arahan terakhir pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali menangani pengolahan sampah menjadi energi listrik menggunakan mekanisme KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha). “Meskipun Pemprov yang menjadi koordinator dalam penanganan sampah ini namun dibantu oleh pemerintah pusat melalui kementerian PUPR, Kementerian Keuangan dan Bappenas,” kata Sekda Dewa Indra. Menurutnya ketiga institusi ini membantu menyusun skema KPBU PSEL TPA Sarbagita Suwung.

Dalam proses itulah Pemprov Bali menyelenggarakan konsultasi publik. “Konsultasi publik ini semangatnya adalah menginformasikan kepada publik, kepada stakeholder bahwa persoalan sampah itu akan kami tangani,” kata Sekda Dewa Indra.

Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Permukiman Haryo Bekti Martoyoedo, S.T., M.Sc mengatakan permasalahan sampah di TPA Suwung tidak bisa diselesaikan jika menggunakan metode yang ada sekarang. “Ke depan perlu lahan lagi, itu kan membutuhkan dana yang besar dan mencari lahan susah. Karena itu perlu ada pemahaman bersama bahwa ada satu metode baru untuk mengolah sampah,” kata Haryo. Apa yang disampaikan pemangku kepentingan dalam konsultasi publik ini akan menjadi masukan bagi tim penyusun pra studi kelayakan, jelasnya.

Ketua Komisi III DPRD Bali I Kadek Diana berharap upaya kali ini menjadi yang terakhir dan bisa terlaksana. Menurutnya posisi TPA Suwung yang berada di dekat bandara sangat vital untuk kelangsungan pariwisata Bali. Ia mengatakan pariwisata membutuhkan kebersihan. “Mudah-mudahan ini yang terakhir dan harus ada hasilnya,” katanya. [pr/r6]

Selasa, 22 Oktober 2019

TNI-Polri di NTB Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan


Mataram - Musim kemarau yang berkapanjangan menjadi perhatian pemerintah tidak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak tanggal 19 Oktober kemarin kebakaran hutan terjadi di Gunung Tambora wilayah Kabupaten Dompu dan Bima, dan Gunung Rinjani wilayah Kabupaten Lombok timur dan Lombok Barat.

Lahan HGU milik PT. SMS yang terletak di Doroncanga areal Taman Nasional Tambora Desa Soritatanga Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu terbakar pada Sabtu sore kemarin, begitu juga dengan kawasan hutan Pelawangan Senaru Kecamatan Bayan Lobar dan Pelawangan Sembalun Lombok Timur mengalami kebakaran.

Khusus di kawan hutan Gunung Rinjani, berdasarkan keterangan Danramil 1615-10/Sembalun Lettu Inf Abdul Wahab, lokasi hotspot Jempong Borok pada koordinat S 08°20'20.4 E 116°28'35.5 bertempat di Pos 4 Pelawangan Kecamatan Sembalun dan sampai saat ini lokasi kebakaran diperkirakan sudah mencapai ribuan hektar.

Hingga Senin malam ini (21/10), lanjut Wahab, api masih terlihat jelas dan merembet hingga ke Pos II dan I puncak Gunung Rinjani karena selain tumbuhan dan rumput yang sudah kering, juga didukung angin yang kencang sehingga api bertambah cepat merembet.

Sementara Danramil 1606-02/Bayan Kapten Inf Turmuzi mengatakan pihaknya bersama anggota Polres Lombok Utara melakukan pemadaman di jalur pendakian Senaru Pos 2 dan Pos 3, namun pendakian melalui jalur barat dan jalur timur belum bisa di padamkan.

"Kondisi pendakian di dua tempat tersebut harus ditempu melalui dusun yang berbeda, jalur barat harus melalui Dusun Semokan Desa Sukadana dan jalur pendakian sebelah timur harus naik dari Dusun Torean Desa Loloan Kecamatan Bayan dengan medan yang cukup sulit untuk memadamkan api," terangnya.

Melihat kondisi tersebut, Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos. SH. M.Han., meminta kepada seluruh Dandim jajaran untuk terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat dan Kepolisian untuk mengambil langkah-langkah kongkret dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Kondisi saat ini, kita harus bergerak cepat untuk menanggulangi Karhutla yang terjadi dengan mengerahkan personel bersama-sama dengan Pemda dan Kepolisian serta masyakat bersatu padu dalam penanganan Karhutla," tegasnya.

Menurutnya, musim kemarau saat ini tidak hanya mengenai kebakaran, namun juga berdampak pada menurunnya debet air sehingga beberapa sumber air akan berkurang.

"Itu juga perlu menjadi perhatian kita bersama, karena dibeberapa wilayah di NTB sudah mengalami kekeringan," ujarnya.

Untuk lanjut Alumni Akmil 1993 tersebut, perlu ada penanganan secara terpadu dengan melibatkan seluruh stake holder baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota sehingga masalah Karhutla maupun kebutuhan air bersih bisa ditangani dengan baik.

"Butuh sinergitas secara terpadu dalam penanganan musim kemarau yang mengakibatkan kebakaran dan kekeringan," jelas Danrem.

Selain Danrem juga meminta kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati membakar sisa hasil panen (jerami dan sejenisnya) dan sampah, bila perlu di jaga dan disiapkan air untuk mengantisipasi apabila apinya menjalar ketempat lain.

"Demikian juga puntungan rokok, pastikan apinya dalam keadaan padam (mati) baru dibuang," pungkasnya. (Penrem 162/WB)

Senin, 07 Oktober 2019

Masih Dalam Serangkaian HUT ke 74 TNI, Kodam IX/Udayana Tanam Mangrove di Benoa


Denpasar - Penanaman Pohon Mangrove merupakan implementasi dari Pembinaan Teritorial (Binter) dan pembinaan potensi maritim yang sudah menjadi bagian dari tugas pokok TNI, khususnya dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat dan pemerintah daerah sekaligus sebagai upaya kita menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta mengurangi dampak pemanasan global dan abrasi pantai.

Demikian disampaikan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto, S.I.P., dalam sambutannya pada saat pelaksanaan kegiatan penanaman Pohon Mangrove serentak dalam rangka HUT ke-74 TNI yang bertemakan “TNI Profesional Kebanggan Rakyat Selamatkan Bumi Kita Untuk Anak Cucu”, dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster dan diikuti sekitar 2.000 orang, di Eks Reklamasi Pelindo III, areal pesisir utara Pelabuhan Benoa, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Densel, Kota Denpasar, Senin (7/10/2019).

Pangdam mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari pembinaan teritorial dan pembinaan potensi maritim yang sudah menjadi tugas pokok TNI, khususnya dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat dan pemerintah daerah serta untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mengurangi dampak pemanasan global.

Harapannya agar kegiatan ini bisa dilaksanakan berkelanjutan. Mangrove yang ditanam agar tumbuh subur serta dapat bermanfaat dan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat khususnya masyarakat Benoa.

“Manfaat dari penanaman Pohon Mangrove memang tidak dapat kita rasakan sepenuhnya saat ini, tetapi akan dirasakan oleh anak cucu kita. Oleh karenanya, kepada seluruh masyarakat di wilayah Benoa untuk meningkatkan kepedulian yang tinggi dalam menjaga dan merawat bibit pohon yang kita tanam,” demikian ungkap Pangdam.

Sementara itu Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan rencana untuk membuat Hutan Kota di kawasan eks reklamasi Pelindo III. Kawasan tersebut akan dijadikan hutan kota yang hijau. Dari 45 hektare yang ada 49 persen akan dijadikan areal penanaman beraneka jenis tumbuhan dan sisanya sebagai fasilitas pendukung Pelabuhan Benoa.

"Total ada 22 hektare yang akan dijadikan kawasan hutan kota, wilayah ini akan dijadikan kawasan hutan kota, wilayah ini akan ditananami tumbuhan yang cocok dikembangkan di daerah ini agar hijau," sebut Gubernur.

Gubernur Bali mengapresiasi kegiatan ini sekaligus juga berkomitmen  atas dukungan Pangdam IX/Udayana dan jajaran kepada program Pemerintah Provinsi Bali sesuai dengan visi Nangun Sat Kertih Loka Bali, yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam.Bali menuju Bali yang bahagia sejahtera skala dan niskala.

Usai melakukan penanaman Pangdam dan rombongan  melaksanakan video conference dengan Panglima TNI yang berada di Pantai Indah Kapuk Jakarta, untuk melaporkan kegiatan pelaksanaan karya bakti penanaman Mangrove dalam rangka HUT Ke 74 TNI di wilayah Bali.

Saat turut serta berada di lokasi penanaman Pohon Mangrove, Kapendam IX/Udayana Kolonel Kav Jonny Harianto G, S.I.P., mengatakan bahwa Karya bakti penanaman Mangrove atau Bakau ini, merupakan kegiatan serentak di seluruh wilayah Indonesia dengan menargetkan penanaman 344.000 pohon Mangrove sementara untuk wilayah Bali ditanam 5.000 pohon.

Hadir juga dalam acara tersebut diantaranya Ketua DPRD Prov. Bali, Kalanti Bali, Irdam IX/Udy, Danrem 163/WSA, para Staf Ahli Pangdam IX/Udy, Asrendam IX/Udy, para Asisten Kasdam IX/Udy, para Dan/Kabalakdam IX/Udy, LO AU, Danlanud I Gusti Ngurah Rai, Danlanal Denpasar, Ksop Benoa, GM. Pelindo Cab. Benoa, Ketua Dharma Pertiwi Daerah “J”, Persit KCK PD IX/Udayana, Jalasenastri dan PIA Ardia Garini, Pramuka, Basarnas, Paguyuban Amerta Sedana, Dinas Das (Daerah Aliran Sungai), serta undangan lainnya. (PenUdy, @rb)

Kamis, 08 Agustus 2019

Tirta Tiasa Udayana, ‘Mutiara’ Tersembunyi Persembahan TNI pada TMMD ke-105 di Nyanglan Klungkung


BLKNNews, Klungkung - Kegembiraan berlimpah dirasakan warga Nyanglan, Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, setelah dilaksanakan program TMMD ke-105. Semula, warga hanya mendapat kabar kalau personel TNI akan membangunkan jalan baru yang membelah areal persawahan sebagai kegiatan utama.

“Jalan itu memang sudah lama ditunggu-tunggu warga. Tetapi, siapa sangka ada kejutan lain bagi warga, yakni ditemukannya akses menuju air terjun di Nyanglan. Ini benar-benar di luar perkiraan kami, sehingga kami sungguh-sungguh terharu atas berkah ini,” ujar Jro Mangku I Wayan Purwa Antara selaku Kelian Banjar Dinas Dusun Tengah, Nyanglan, ketika ditemui di lokasi jalan baru hasil karya personel TMMD ke-105.

Menurut Purwa Antara, memang sudah lama penduduk Nyanglan mendengar kabar tentang keberadaan air terjun yang ‘tertidur’ di antara tebing-tebing yang curam dan terjal. Sehubungan letaknya di jurang yang terjal, sungguh sulit untuk dapat dijangkau oleh penduduk. Kalau toh mau memaksakan diri untuk bisa sampai ke kawasan air terjun, warga harus melewati hutan dan rimbunan semak, serta menuruni tebing yang dirambati tanaman menjalar, yang sebagian berduri.Sementara, sejak dibangun jalan baru yang membelah persawahan desa, akses menuju air terjun menjadi terbuka.

“Semula jalan baru direncanakan 1.800 meter, akhirnya kini diperpanjang jadi 2.035 meter, sehingga bisa menjangkau kawasan air terjun,” kata Purwa Antara menambahkan, masyarakat di desanya memang dari dulu sudah sangat menginginkan adanya akses menuju air terjun, dengan harapan bisa mendatangkan ‘income’ bagi penduduk dan kas desa.

Kepala Dusun ini melanjutkan, sekarang akses jalan menuju air terjun berhasil dibuka oleh ‘pasukan’ TMMD. Terkait hal ini, warga desa sudah melakukan rembug dengan tokoh-tokoh setempat untuk menghidupkan potensi wisata desa. Jika selama ini warga bertumpu pada pertanian sebagai penopang kehidupan, kini sudah terbuka jalan untuk mendapatkan pemasukan desa melalui pariwisata air terjun.

Keindahan air terjun ini, sudah banyak menuai pujian warga maupun pendatang, yang terpesona melihat perpaduan gemuruhnya air yang menukik dengan pemandangan alam yang masih ‘perawan’ di sekitarnya.

Pada aliran air terjun yang tingginya mencapai 25 meter, terdapat tiga kali lekuk terjunan, sebelum akhirnya guyuran air itu bercipratan di atas bebatuan di pinggir aliran Sungai Jinah, yang merupakan batas Kabupaten Klungkung dengan Karangasem. Inilah sesungguhnya ‘mutiara’ terpendam yang dimiliki Desa Nyanglan, tapi selama ini tidak dapat dijangkau karena letaknya yang begitu terpencil di jurang terjal rimbun pepohonan.

“Kalau seluruh proses pembuatan jalan baru telah selesai dilakukan, kami secara swadaya akan mulai melakukan penataan lingkungan di kawasan air terjun. Akan dibangun juga jalur trekking dan bersepeda, sementaraareal tanah subak akan ditanami tumbuhan organik untuk dijual kepada para wisatawan yang berkunjung,” kata Purwa Antara, bersemangat.

Selanjutnya, Kepala Dusun ini mengagendakan untuk segera mensosialisasikan potensi wisata air terjun kepada generasi muda Nyanglan yang merantau, supaya pulang kembali ke desa. Anak-anak muda diharapkan mau bersama-sama membangun pariwisata desa, dengan berbekal pengalaman kerja selama inipada destinasi lain di perantauan.

“Saatnya generasi muda kembali ke desa. Mari bersama-sama membangun pariwisata desa,” ujar Purwa Antara menyerukan kepada warganya yang muda-muda yang masih tinggal di perantauan.

Ia mengungkapkan, ada banyak rencana indah ke depan, antara lain, jalur jalan sepanjang 2 km dari ‘jalan baru’ menuju air terjun, akan ditanami bunga-bunga yang menarik. “Akan kami utamakan menanam bunga yang tak kenal musim dalam berbunga indah,” kata Purwa Antara dengan ekspresi girang.

Pada penghujung wawancara, Purwa Antara berulang kali menyatakan terima kasih pada segenap personel TNI yang terlibat membangun jalan baru di desanya. Jalan itu benar-benar dibutuhkan warga, sekaligus membukakan gerbang menuju masa depan yang lebih baik.

“Memang Bapak-Bapak TNI yang lebih banyak berperan dalam pembangunan fisik. Kalau kami warga desa ini paling sehari hanya membantu 2-3 jam saja, selebihnya harus bekerja menafkahi keluarga. Tapi Bapak-Bapak Tentara itu tiap hari tidak pandang teriknya panas atau hujan yang mengguyur mereka terus bekerja supaya jalan baru itu segera terwujud. Terima kasih, kami hanya sanggup mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Bapak TNI di Nyanglan,” ujar Purwa Antara dengan suara nyaris tercekat, sementara kedua pelupuk matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Dalam kunjungannya ke lokasi Desa Nyanglan, Pangdam IX/Udayana yang juga sebagai Pengendali Kegiatan Operasi (PKO) TMMD menyempatkan diri melihat langsung progres perkembangan fisik pelaksanaannya, dengan didampingi oleh Dansatgas TMMD ke-105 Tahun Anggaran 2019 Kodim 1610/Klungkung Letkol Czi Paulus Joni Simbolon, S.E., M.Tr (Han)berupaya untuk mencarikan nama bagi air terjun ini, pihaknya sudah bersepakat dengan masyarakat Desa Nyanglan dan atas hasil musyawarah dengan pemuka desa setempat untuk menamai objek wisata baru itu dengan nama ‘Tirta Tiasa Udayana’. Maknanya adalah ‘air suci bersih dari Udayana’.

Dansatgas TMMD yang juga Dandim 1610/Klungkung tersebut berharap potensi air terjun ini akan menjadi tempat wisata baru yang nantinya memberi manfaat bagi masyarakat, termasuk menjadi daya tarik wisata alam bagi wisatawan untuk berkunjung ke Desa Nyanglan.

Air terjun itu terletak di sebelah barat Tukad Jinah, tepatnya berjarak sekitar 500 meter dari  lokasi jalan baru yang dibuat TMMD. Untuk mencapai air terjun itu, medannya lumayan sulit. Kawasan yang melingkupi adalah hutan kecil dan lembah dengan semak belukar yang masih lebat. Tinggi air terjun sekitar 25 meter dengan debit air sekitar 6 liter per detik.

Menurut dia, saat ini Satgas TMMD bersama masyarakat di samping fokus mengerjakan sasaran TMMD baik fisik maupun nonfisik, sekaligus juga merealisasikan harapan warga, yakni adanya akses jalan menuju air terjun.

“Dengan ditemukannya lokasi air terjun ini, menjadi suatu rintisan baru untuk dapat kita kerjakan, seperti membuat akses jalan tambahan menuju ke lokasi. Berhubung lokasi air terjun terbilang berada di areal yang curam, kita bangun jalan turunan yang berundak-undak untuk dapat sampai ke sana,” katanya menjelaskan. (Pendam IX/Udayana)
© Copyright 2019 BLKNNews.com | All Right Reserved